Mungkin ada yang bertanya kenapa Saya sampai repot-repot membuat blog seperti ini dengan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan ongkos buat warnet tentunya. Ada beberapa alasannya, namun yang paling kuat adalah keinginan untuk menyadarkan sahabat, kawan, dan keluarga Saya yang telah terjerumus menjalankan bisnis Multilevel Marketing atau biasa disingkat MLM. Apalagi, jujur, Saya pun mantan pelaku MLM yang kini telah tobat dan merasa punya kewajiban moral menyadarkan mereka melalui pemahaman yang Saya dapatkan selama menggeluti MLM.
Kenapa Saya menggunakan kata terjerumus dan mengapa pula mereka orang-orang MLM mesti disadarkan? Bukankah MLM (yang biasa pula disebut direct selling) just another businnes like others? bukankah MLM atau network marketing dapat dikatakan sebuah solusi masalah pengangguran buat bangsa ini karena menjadi lahan kerja bagi jutaan orang di Indonesia? bukankah MLM adalah sebuah berkah yang membuat banyak orang ‘biasa’ menjadi orang-orang ‘luar-biasa’ baik dari segi penghasilan maupun perubahan karakter? bukankah MLM membawa manfaat yang tidak sedikit buat orang-orang yang telah putus asa dengan penyakitnya karena terbukti sejumlah produk MLM ternyata manjur menyembuhkan?
So, jika semua itu argumen yang biasa dikemukakan pelaku bisnis MLM tersebut memang benar tentu Saya tak akan repot-repot menulis blog ini. Tetapi kenyataannya dilapangan, ternyata jauh panggang dari api, jauh harapan dari kenyataan. Sayang, entah karena doktrinisasi upline telah begitu mengakar di batang otak, atau karena gengsi mengakui ‘kegagalan’, masih banyak yang tetap ngotot menekuni bisnis MLM. Meski tahunan telah terlewati, uang sudah banyak melayang, tenaga habis terkuras, dan keluarga serta teman menjauh, namun hasil tak sesuai impian, passive income tak kunjung diperoleh, tetap saja para fanatik MLM bertahan. Sungguh, membuat Saya kagum sekaligus miris dan sedih. Apalagi karib dan keluarga Saya sendiri yang berlaku seperti itu.
Secara lisan, telah berulangkali mereka coba kuingatkan. Baik secara halus, sindiran, adu argumen, sodorkan teori dan fakta, tetapi mereka bergeming. Malah mereka semakin menjadi-jadi. Meski dengan alasan yang bertentangan dengan logika, yang penting petunjuk dan petuah ‘upline’ saja yang mereka anggap benar. Sulit betul menghilangkan propaganda terhadap mereka yang otaknya telah dicuci itu.
Akhirnya, dipuncak kegemasanku, kuputuskan untuk mempublish blog ini. Sebagai ajang untuk berbagi dengan teman-teman diluaran sana yang punya pemikiran yang sama, sehingga ‘bersama kita bisa’ menyadarkan mereka yang terjerumus. Bagi mereka yang mengerti, MLM itu tak kurang bahayanya dari sekte dan aliran sesat.
Demikian pengantar dari Saya, sebagai pancingan untuk berdiskusi. Tak kubahas tuntas semua alasan dan argumen karena akan Saya jelaskan di postingan selanjutnya, lewat posting berseri yang rencananya akan Saya beri judul “1001 Bahaya MLM” atau semacamnya. Tunggu saja.